Blog ini adalah archive. Untuk situs kami yang aktif, silahkan kunjungi mahkamahnews.org | Follow kami di Instagram & Twitter : @mahkamahnews

Baca juga archive produk-produk kami di  

Rabu, 14 Desember 2011

Martir Revolusi Modern


Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”
-Tan Malaka-

Selamat jalan saudaraku! Sepenggal kalimat itu yang hanya bisa kita ucapkan untuk Sondang Hutagalung, seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno. Ia seorang aktivis yang kerap melibatkan diri dalam berbagai aksi mahasiswa di Jakarta. Bersama dengan beberapa temannya, Sondang mendirikan Hammurabi, sebuah wadah bagi mahasisawa untuk berdiskusi tentang permasalahan sosial politik negeri dari sudut pandang Marheinisme. Pemuda ini pun juga merupakan salah satu aktivis gerakan Kamisan, yang menuntut keadilan atas peristiwa Mei 1998 silam.

Pemuda 22 tahun ini, melakukan aksi heroik dengan membakar diri di depan istana tepat seminggu lalu atau pada 7 Desember lalu. Motivasi dan tujuan aksinya pun masih menjadi misteri. Pesan lisan maupun tertulis tak ditemukan. Hanya sebuah pertanyaan besar yang ia tinggalkan untuk kita dan juga untuk pemerintah tentunya. Pemerintah pun kelabakan bak kebakaran jenggot. Pemerintah yang dianggap sebagai pihak penerima pesan Sondang dituntut untuk mengartikan misteri pesan itu.

Aksi heroik Sondang ini pun tak pelak seolah meninju muka pemerintah dengan telak. Belum lagi serangan LSM dan media yang bertubi-tubi menyerbu pemerintah secara bersama-sama. Pemerintah pun hanya bisa mengucapkan belasungkawa atas kematian saudara kita ini. Sebuah tata cara yang sudah sangat umum. Padahal, kita semua ingin mendengar jawaban dari pemerintah lebih dari sekedar ucapan belasungkawa. Tentunya Sondang pun juga tidak pernah mengharapkan jawaban seperti itu. Jawaban yang terkesan menggampangkan atas sebuah isu yang menggemparkan publik. Pesan yang ditinggalkan Sondang memang tidak jelas namun hal itu bukan berarti menjadi alasan pemerintah untuk tidak menjelaskan maksud dan tujuan Sondang kepada masyarakat. Tindakan pemerintah yang seperti ini nantinya justru akan memebentuk opini miring publik bahwa pemerintah seolah lepas tangan atas aksi martir revolusi modern ini.

Tindakan membakar diri identik dengan tindakan revolusi Timur Tengah. Tindakan seperti ini pernah dilakukan di Tunisia yang akhirnya berujung pada revolusi di negara tersebut. Seorang pedagang sayur memberanikan diri membakar diri di tengah pasar. Latar belakang tindakan pedagang sayur tersebut lebih didasari pada keadaan ekonomi negara yang carut marut. Rakyat Tunisia pada saat itu jauh dari kata mapan. Mereka merasa dibodohi oleh rezim penguasa saat itu yang mempermainkan nasib rakyat seenak hati sendiri. Namun apakah motif ini sama dengan motif tindakan Sondang? Jawabanya bisa iya bisa tidak. Jika kita membandingkan keadaan ekonomi negara kita dengan Tunisia, negara kita bisa dikatakan sedikit lebih maju. Namun, apakah hal itu menjadi jaminan terciptanya kehidupan rakyat yang sejahtera?

Masih banyak rakyat negara ini yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kerja keras mereka tidak sepadan dengan hasil yang mereka peroleh. Padahal jika kita melihat sumber daya alam yang dihibahkan Tuhan pada negeri ini tidak mungkin kemiskinan bisa tumbuh subur. Bayangkan saja, di bagian timur, tepatnya di Papua, kiat mempunyai cadangan emas yang melimpah. Belum lagi di ujung barat kita mempunyai tambang gas alam di Aceh, batu bara di Kalimantan Timur dan minyak bumi yang melimpah di lautan kita. Lalu kemana larinya karunia Tuhan tersebut? Apakah mereka lari dengan sendirinya ke kantong negara lain? Tentu saja tidak!

Mahkluk Tuhan berkaki dua yang katanya paling sempurna itulah yang melarikan sumber daya tersebut ke luar negeri. Mungkin bukan melarikan, tapi “menjual” dengan murah. Banyak alasan untuk menjelaskan kenapa hal ini bisa terjadi. Alasan yang paling sering kita dengar adalah karena tenaga manusia negara ini tidak kompeten untuk mengolah sumber daya alam tersebut. Hal itu mungkin bisa diterima 20 - 30 tahun silam. Namun, hal itu justru akan menjadi sebuah lelucon jika diungkapkan saat ini. Bagaimana tidak, banyak perusahaan asing yang notabene menggunakan orang Indonesia sebagai tulang punggung mereka. Tapi kenapa para pemimpin bangsa ini justru lebih percaya kepada pihak asing untuk mengolah sumber daya alam kita? Tidak ada yang tahu pasti jawabannya.

Lebih ironis lagi jika kita mengamati media beberapa hari ini. Kebanyakan dari media belakangan ini sibuk meliput tertangkapnya Nunun Nurbaetie, tersangka kasus penggelapan cek pelawat. Padahal, hampir setiap hari kita membaca dan mendengar tentang kasus korupsi. Penyelesaian berbagai kasus tersebut pun selalu mengambang. Aroma politisasi pun tercium dengan jelas. Pemerintah juga seolah lebih fokus pada kasus Nunun ini daripada kasus Sondang Hutagalung. Padahal, tanpa mencoba untuk menjelaskan maksud dan tujuan utama Sondang, kita semua sudah tahu bahwa aksi heroik tersebut adalah sebuah protes kepada pemerintah. Protes terhadap berbagai segi kehidupan rakyat. Aksi yang murni didasari oleh aspirasi rakyat kecil yang peduli terhadap bangsa. Lalu kenapa pemerintah seolah membiarkan begitu saja kasus ini? Sangat ironis memang. Para koruptor dan mereka yang menjual minyak bumi negeri ini dengan murah seolah lebih bernilai daripada seorang pemuda yang membakar dirinya dengan bensin hasil minyak bumi yang sama.

Beranikah kita semua menjadi seperti Sondang Hutagalung? Atau justru menjadi pecundang yang selalu dibodohi? Menjadi seperti Sondang tidak harus dengan membakar diri, bukan juga dengan melakukan tindakan anarkis lainnya. Bakarlah semangat cinta tanah airmu menjadi kepulan asap yang menaungi bangsa! Bakarlah jiwa mudamu menjadi panas yang membentengi negara!(***)

Erdha Widayanto
Divisi Redaksi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar