Blog ini adalah archive. Untuk situs kami yang aktif, silahkan kunjungi mahkamahnews.org | Follow kami di Instagram & Twitter : @mahkamahnews

Baca juga archive produk-produk kami di  

Rabu, 23 Maret 2011

Kendala Di Balik Peradilan Semu


Selamat datang di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (FH UGM). Selamat datang di fakultas berstandar internasional dimana prestasi mahasiswanya sudah diakui oleh jagad internasional. Namun, seringkali kurang mendapat perhatian dari fakultas tempat mereka belajar.
Fakultas yang belakangan ini menyatakan diri sebagai fakultas berstandar internasional ini seakan–akan menghalangi perkembangan mahasiswa yang turut serta dalam kancah internasional. Bukan hanya kegiatan akademik biasa, melainkan peradilan semu internasional, sebuah acara presitisius di mana fakultas-fakultas hukum terkemuka di seluruh dunia mengirimkan perwakilannya untuk berlomba menjadi yang terbaik. Sampai saat ini ada empat kompetisi Moot Court Competition (MCC) internasional yang diikuti oleh mahasiswa FH UGM, mulai dari yang berbentuk Court (ICRC dan Jessup) hingga yang berbentuk arbitrase (Willem C.Vis  dan Maritime).
Maju demi mengharumkan nama fakultas di kancah internasional , hal inilah yang ada di benak para international mooters (peserta MCC internasional) ketika mereka maju berhadapan dengan lawan mereka. Di kompetisi macam inilah, para mahasiswa dituntut untuk bersikap profesional dan berpikir layaknya seorang pengacara, dimana common sense dan legal skills saling menyeimbangkan. MCC internasional juga merupakan ajang memperluas jaringan pertemanan dengan mahasiswa-mahasiswa dari fakultas lain. Tidaklah mengherankan jika banyak fakultas lain yang menjadikan international mooting sebagai mata kuliah wajib para mahasiswanya.
Namun sayang, Fakultas Hukum ini masih saja terjebak dalam pemikiran sempit konvensional. Fakultas kurang bersimpati kepada para mooters , banyak hal yang menyebabkan berani berkata seperti ini, mulai dari birokrasi yang rumit dalam hal penyerahan proposal, kesulitan dalam hal peminjaman ruangan hingga pemberian dana untuk biaya pendaftaran kompetisi.
“ Fakultas kurang memberikan perhatian terhadap kompetisi internasional,” komentar Eldo Kredainou Alwi, Mahasiswa FH UGM angkatan 2008 dan salah satu delegasi  Maritime untuk tahun 2011.
Eldo merupakan salah satu mooters veteran yang masih aktif hingga saat ini. Sebelumnya, ia merupakan  salah satu delegasi Phillip C. Jessup International Law Moot Court Competition untuk FH UGM. Di sela-sela kesibukannya mempersiapkan keberangkatan delegasi Maritime ke Australia bulan Juli mendatang, ia memberikan komentar tentang masalah yang sering dihadapi para mooters. “ Fakultas kurang memberikan perhatian yang cukup terhadap pendanaan delegasi. Misalkan, perihal masalah dana mulai dari Jessup sampai Maritime saat ini pasti permasalahannya sama, mulai dari proses permohonan dana hingga proses pencairan dana itu terlalu lama,” komentarnya saat ditanya perihal pendanaan delegasi. “ Padahal yang paling penting dalam pembiayaan kompetisi itu adalah pemenuhan biaya pendaftaran kompetisi yang seharusnya diberikan secara cepat, sehingga kami dapat menghindari sanksi keterlambatan pembayaran biaya pendaftaran. Saya merasa terhalangi oleh birokrasi yang rumit dan lamanya proses administrasi dalam proses permintaan dana, hal-hal macam ini dapat mempengaruhi kinerja dan kualitas tim. ”
Pencairan dana untuk biaya pendaftaran kompetisi memang masalah yang sering dihadapi. Bahkan bukan hanya Maritime dan Jessup saja yang mengalami masalah semacam ini, delegasi dari Willem C.Vis juga menghadapi permasalahan yang sama. Birokrasi yang berbelit-belit menyebabkan dana pendaftaran tidak dicairkan hingga saat ini. Padahal permohonan dana tersebut sudah disampaikan bulan Oktober 2010 yang lalu.
“Untuk menyiasati permasalahan tersebut, kami akan memberikan permohonan bantuan dana kepada sponsor atau donatur, seperti panitia acara pada umumnya,” katanya, “Tetapi seharusnya Fakultas dapat memenuhi pembiayaan kebutuhan utama kami terlebih dahulu, yaitu biaya pendaftaran. Tidak masuk akal apabila Fakultas tidak dapat membiayai pendanaan tersebut, karena kami maju atas nama almamater dan FH UGM.” 
Memang  MCC internasional merupakan hal yang baru di Fakultas Hukum. Namun hal ini, bukan alasan bagi Fakultas untuk mengabaikan dan menganggap enteng kompetisi ini. Nama Fakultas Hukum UGM dianggap sebagai prodigy di kancah internasional. Prestasi tim ICRC baru-baru ini semakin mengokohkan reputasi FH UGM sebagai fakultas yang mampu menghasilkan mahasiswa bermutu. Akan sangat menyakitkan apabila mahasiswanya lebih diakui oleh fakultas lain dibandingkan fakultasnya sendiri.(***)
Arif Foranto
Divisi Redaksi 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar