Blog ini adalah archive. Untuk situs kami yang aktif, silahkan kunjungi mahkamahnews.org | Follow kami di Instagram & Twitter : @mahkamahnews

Baca juga archive produk-produk kami di  

Rabu, 02 Mei 2012

Kobarkan Semangat Solidaritas Untuk Kaum Buruh

Chandra Purnama Putra

        Mayday atau hari buruh sedunia, merupakan hari bersejarah bagi kaum buruh di seluruh penjuru bumi. Federation of Organized Trades and Labor Unions pada tahun 1886 menetapkan hari istimewa bagi kaum buruh itu jatuh di tanggal 1 Mei. Awalnya mayday merupakan momen untuk mengakomodasi tuntutan delapan jam kerja atau yang dikenal dengan eight hour movement. Seiring berjalannya waktu, hari buruh diperingati tidak hanya sebagai momen untuk menuntut pengurangan jam kerja. Tuntutan ini juga meluas ke berbagai aspek mulai dari peningkatan kesejahteraan buruh, peningkatan kesehatan buruh, keselamatan buruh hingga tuntutan adanya serikat buruh di seluruh perusahaan.

        Di kota Yogyakarta, hari buruh sedunia diperingati oleh gabungan organisasi yang berdomisili di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Aliansi masyarakat itu melakukan aksi di sepanjang Jalan Malioboro. Kelompok masyarakat yang menamakan dirinya Aliansi Rakyat Yogyakarta (ARY) itu terdiri dari FSBII Bantul, IDEA, ICM, Dema Justicia FH UGM, HMI UGM dan lainnya. Aksi ARY ini dimulai dengan orasi di depan halaman gedung DPRD Propinsi Yogyakarta. Mereka memberikan batang pohon yang digantung dengan surat-surat keluhan dan harapan masyarakat kepada salah satu perwakilan anggota DPRD.

        ARY dilanjutkan dengan longmarch menuju ke titik nol kilometer untuk bergabung dengan aliansi masyarakat lain. Di titik nol kilometer, perwakilan dari ARY membacakan tuntutannya terhadap pemerintah. Isinya mendesak agar pemerintah bertindak tegas terhadap pelanggar upah minimum. Mendesak agar pemberangusan serikat buruh dihentikan serta menuntut pemerintah mencabut Undang-Undang Minyak dan Gas serta Undang-Undang Penanaman Modal Asing. Selain itu, mereka menolak diskriminasi terhadap buruh perempuan. Aksi ARY ditutup dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai perwujudan rasa cinta terhadap tanah air.

         Setelah ARY membubarkan diri, aksi memperingati hari buruh sedunia dilanjutkan oleh Komite Rakyat Bersatu (KRB). KRB merupakan gabungan dari elemen masyarakat yaitu PEREMPUAN MAHARDIKA, KASBI Yogyakarta, PPR, PPBI, PPRM, RESISTA dan lainnya. Jumlah peserta aksi yang tergabung dalam KRB ini tiga kali lipat lebih banyak dari jumlah peserta aksi yang tergabung dalam ARY.

          Para peserta aksi yang tergabung dalam KRB ini memakai baju merah yang merupakan simbol perlawanan dari kaum yang tertindas dan membawa banyak bendera sehingga membuat suasana demonstrasi menjadi lebih meriah dan bersemangat. Adapun tuntutan dari KRB antara lain menolak liberalisasi pasar tenaga kerja, mendesak pemerintah Indonesia untuk menaikkan upah buruh. Mereka menuntut agar pemerintah memberikan hak cuti haid, hak cuti hamil dan melahirkan, serta meminta  pemerintah mengusut tuntas kasus Marsinah .

          Demonstrasi dalam rangka memperingati hari buruh sedunia di Yogyakarta pada umumnya berjalan lancar. Sayangnya ada sebuah insiden yang terjadi saat KRB bersitegang dengan penyelenggara acara musik tradisional. Masalah itu muncul karena dentuman suara musik yang lebih keras daripada suara orasi dari KRB. Hal ini sepatutnya dihindari oleh pemerintah kota yang menyelenggarakan acara musik tradisional itu. Pemerintah kota seharusnya sudah mengetahui bahwa akan ada aksi demonstrasi pada tanggal 1 Mei 2012. Tindakan pemerintah kota ini membuat curiga para pihak bahwa tindakan itu sengaja dilakukan untuk menghambat peringatan hari buruh sedunia di Yogyakarta.

         Demonstrasi peringatan mayday di Yogyakarta pada tanggal 1 Mei 2012,  lebih baik daripada demonstrasi tahun lalu. Namun, masih ada kekurangan dalam penyelenggaraan aksi yang seharusnya sudah diperbaiki dari tahun yang lalu. Kekurangan itu adalah tidak adanya mobilisasi massa yang bersatu. Demonstrasi dalam rangka memperingati hari yang bersejarah ,seharusnya dilakukan dalam kesatuan massa aksi. Hanya dalam satu massa aksi,
demonstrasi lebih bermakna pencapaiannya dan mengetarkan nyali pemerintah.

          Lemahnya koordinasi, egoisme organisasi serta sikap sok ekslusif dari masing-masing elemen masyarakat ini merupakan penyebab utama tidak bersatunya elemen masyarakat dalam satu massa aksi. Semoga para pihak dapat berkaca dari beberapa demonstrasi yang terjadi di negara barat. Dimana semua elemen masyarakat menjadi satu dalam tujuan yang sama walaupun berbeda-beda pemahaman dan latar belakang. Meskipun demonstrasi dalam rangka memperingati hari buruh sedunia belum ditemukannya satu komando , patutlah diapresiasi semua pihak yang melakukan aksi ini. Mereka rela meninggalkan pekerjaannya dan meninggalkan bangku kuliahnya yang ber-AC hanya untuk berpanas-panas untuk menunjukkan solidaritas terhadap kaum yang tertindas. Rasa solidaritas itulah salah satu sifat terpuji dari manusia Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar