Blog ini adalah archive. Untuk situs kami yang aktif, silahkan kunjungi mahkamahnews.org | Follow kami di Instagram & Twitter : @mahkamahnews

Baca juga archive produk-produk kami di  

Senin, 04 Juni 2012

Mental Budak yang Terkonstruktif


Mental Budak yang Terkonstruktif
C. Purnama Putra
“Bangsa Indonesia yang sejati dari dulu hingga sekarang masih tetap menjadi budak belian yang penurut, bulan-bulanan dari perampok-perampok asing. Kebangsaan Indonesia yang sejati tidak ada kecuali ada niat membebaskan bangsa Indonesia yang belum pernah merdeka itu. Bangsa Indonesia yang sejati belum mempunyai riwayat sendiri selain perbudakan . Riwayat bangsa Indonesia baru dimulai jika mereka terlepas dari tindasan kaum imperialis. “ (Tan Malaka)
            Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbesar di dunia ,dengan kekayaan alam yang melipah ruah atau dalam istilah jawa nya  gemah ripah loh jinawi.  Buktinya Indonesia merupakan penghasil tembaga terbesar ketiga di dunia serta penghasil timah terbesar di dunia. Wilayah Ertsberg dan Gresberg di Papua merupakan daerah pertambangan dengan cadangan emas terbesar di dunia. Sungguh ironis, bangsa besar dengan kekayaan alam yang tumpah ruah  malah masih berkutat pada kemiskinan dan kebodohan. Sepintas terlihat bahwa kekayaan alam yang melimpah itu merupakan kutukan bagi Indonesia.
            Bagaimana tidak? hingga sekarang, kekayaan alam itu hanya dinikmati oleh segelintir orang Indonesia yang jumlahnya kurang dari 1% dan para fat cat yang berdomisili di negara-negara barat. Kurang meratanya distribusi kekayaan alam ini akibat dari mentalitas budak penguasa. Mentalitas budak yang terbentuk semenjak penjajahan kolonial yang berabad-abad hingga bangsa Indonesia kehilangan identitas diri dan mudah dikebiri oleh budaya asing .
            Bayangkan sebuah bangsa yang besar, manusianya dijajah dengan kurun waktu yang begitu lama. Dapat dipastikan bahwa penjajahan itu menimbulkan dampak kemunduran yang kompleks. Manusia Indonesia di zaman itu diperas keringat dan tulangnya hanya untuk mengisi saku para makhluk kolonial itu .
            Sebagian dari mereka menjadi buruh tani di tanahnya sendiri. Orang-orang yang memberontak diberangus dengan politik devide at impera. Warisan yang kita peroleh dari penjajahan yang tidak berprikemanusiaan itu salah satunya ialah mentalitas budak. Suatu mentalitas yang dapat kita rasakan hingga sekarang dan akan terus menerus menjadi wabah turun-temurun dari generasi ke generasi. Mentalitas yang membuat kita selalu tidur tenang tak peduli suara bising mesin korporasi msultinasional yang mengeruk seluruh kekayaan alam Indonesia.
            Mentalitas budak yang diharapkan terkikis seiring dengan diucapkannya proklamasi kemerdekaan oleh Soekarno Hatta, ternyata hanya berlaku sementara . Seiring bertambahnya usia Republik Indonesia , Indonesia menghadapi luka lama yang terbuka kembali. Adanya rezim Orde Baru tak ubahnya pembaruan penindasan dan pembaruan perbudakan. Rezim ini dengan mentalitas budaknya merangkul lagi penjajah yang sebelumnya menghancur leburkan negara dunia ketiga , untuk menanamkan modal di Indonesia.Sehingga terjadilah investasi besar-besaran yang memasuki Indonesia. Satu per satu kekayaan alam yang ada di Indonesia dimiliki kembali oleh orang asing.
            Ini seperti keadaan tiga setengah abad yang lalu. Roda perekonomian Orde Baru digerakkan oleh arsitek mafia berkeley yang konon mendapat mukjizat dari negeri Paman Sam. Mereka yang merasa mendapat mukjizat , sangat percaya diri akan kemajuan ekonomi di negeri ini. Namun takdir berkehendak lain , mukjizatnya ternyata tidak mampu menembus krisis Asia pada tahun 1997. Akhirnya rezim Orde Baru ini dengan mentalitas budaknya hanya memberikan warisan utang, budaya korupsi ,pelanggaran HAM dan kekayaan alam yang dikuasai oleh asing.
             Ketika reformasi bergulir, banyak pihak optimis bahwa era ini akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang mempunyai rasa keadilan,berintegritas , nasionalis ,dan humanis. Namun  faktanya, era reformasi terlalu dini untuk dielu-elukan keberhasilannya. Era ini ternyata juga melahirkan para pemimpin inlander yang menjual tanah bangsanya sendiri untuk sesajen para fat cat. Para pemimpin bermental inlander ini merupakan pelayan-pelayan trinitas globalisasi yaitu WORLD BANK ,IMF, dan TNC/MNC. Mereka terlalu percaya kepada skema privatisasi yang akan membawa kesejahteraan dengan tangan-tangan tak terlihatnya.
            Padahal sejarah membuktikan tangan tak terlihat itu  yang konon menurut Adam Smith akan membawa kemakmuran hanyalah omong kosong dan  ternyata hanya membawakan kemakmuran kepada segelintir orang yang mempunyai modal besar. Itu bukanlah sebuah kemakmuran melainkan pencurian kemakmuran yang dilakoni oleh para pemodal besar . Bentuk pemikiran yang seperti inilah yang dilegitimasi oleh para pemimpin bermental inlander pada rezim Susilo Bambang Yudhoyono dimana mereka rela mengesampingkan amanat UUD 1945 pasal 33 yang merupakan kepentingan bangsa , agar kepentingan bapak besar yaitu Amerika Serikat terpenuhi . Tanah Papua diujung timur sana terlalu lelah menjadi saksi atas adanya kepentingan ini .
           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar